prihastomo
UmumOctober 5, 2005 8:24 am

Ma’af, blog saya pindah ke www.epri.blogdrive.com

Terimakasih sudah berkunjung ke sini.

IslamSeptember 15, 2005 9:10 am

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

SOMBONG, takabbur, atau merasa diri besar adalah masalah yg sangat serius. Kita harus berhati-hati dgn persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yg menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah selamanya. Hadirnya rasa takabbur sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa tawadhu (rendah hati) padahal dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap takabburnya.

Tentang sikap takabbur ini Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu” (HR Muslim).
Allah benar-benar mengharamkan surga utk dimasuki orang-orang takabbur. Takabbur hanya layak bagi Allah yang memang memiliki keagungan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.

Penyakit takabbur memang benar-benar seperti bau busuk yang tdk dpt ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dpt dirasakan oleh hati siapapun.

Perhatikan penampilan orang takabbur! Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhan. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, gerak-gerik tangan bahkan hingga ke jari-jari kaki. Semuanya menunjukkan gambaran orang yang benar-benar buruk perangainya.

Ada pertanyaan menarik. Pantaskah sebenarnya orang bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sbg kambing. Tentu saja saat itu tdk ada lagi yg bisa disombongkan. Atau kalau Allah mau, dia bisa terlahir dgn kemampuan otak yg minim. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah suku pedalaman di hutan belantara, maka pd saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan utk makan malam. Apa lagi yg bisa disombongkan?

Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pd kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dgn mengenali ciri-ciri kesombongan. Rasulullah SAW bersabda : “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia” (HR Muslim). Jika dalam hati kita ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya ada, itu pertanda kita telah masuk dlm deretan orang-orang sombong.

Sebagian orang ada yg merasa dirinya paling mulia, baik, salih, dekat pd Allah, dikabul doanya, berkah urusannya, dan lainnya. Ketika ada kebaikan lalu kita laporkan padanya, dia berkata : Oh, siapa dulu dong yg mendoakannya? Dan ketika kita datang padanya dgn keluhan berupa musibah, dia berkata : Ah, itu sih tdk aneh, saya pernah mengalaminya lebih parah dari itu.

Ini adalah gambaran kesombongan. Orang merasa diri lebih dekat pd Allah, lalu memandang orang lain dgn pandangan yg merendahkan. Perilaku seperti ini jika diteruskan akan merugikan pelakunya. Hakikatnya, semua kebaikan dan keburukan terjadi karena izin Allah.
Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi (atas takdir) Allah (QS An Nisaa 4:78).
Kita tidak berdaya membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tdk menghendaki hal itu terjadi. Sekalipun berupa doa atau puasa, tdk bisa dijadikan alasan bahwa kita punya kuasa atas kebaikan dan keburukan.

IslamSeptember 14, 2005 6:15 am

Maut - sang tamu pemisah orangtua dgn anaknya, suami/istri dgn
istri/suaminya, kakak dgn adiknya, kekasih dgn pacarnya, teman dgn sahabatnya - datang dgn tdk mengetuk pintu.

Senin pagi, ketika akan naik pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines dari Polonia, Medan, tak seorang dari lebih seratus penumpang mengetahui bahwa itulah akhir dari perjalanannya. Saat mencari tempat duduk sesuai tiket, memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, dan menyaksikan pramugari memeragakan tata cara pengamanan bila terjadi musibah, tak ada yang membayangkan beberapa menit lagi adalah batas kehidupan mereka.

Sejumlah penduduk dirumah maupun lalu lalang dijalan Djamin Ginting, Padang Bulan, beberapa menit sebelumnya mungkin sdg bercanda atau menyaksikan tayangan televisi tentang gosip artis, tak membayangkan bahwa itulah batas akhir kehidupan mereka. Mereka tewas ditimpa kepingan pesawat. Mereka mencari kehidupan namun mendapatkan kematian.

Antarini Malik - putri alarhum Adam Malik - yg semula akan naik Mandala, juga tak membayangkan keputusan utk pindah pesawat, telah menghindarkannya dari maut. Sebanyak 16 orang, yg kemudian diketahui selamat, juga tak membayangkan bisa keluar dari pesawat yg berkeping-keping dan api yg berkobar.

Siapa yang mengatur kematian dan kehidupan itu? Apakah manusia dpt memilih cara kematiannya? Atau Apakah manusia dpt menentukan sendiri kehidupannya?
Ketika ratusan anak2 bermain-main di pantai, ibu-ibu belanja
dipasar, ribuan warga dgn seragam olahraganya bersiap akan melakukan lomba lari bersama, dan sebagian lain dgn segala kesibukannya, tiba-tiba air laut mendadak surut dan tak lama kemudian gelombang tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Tak ada tempat untuk berpegang, bahkan pohon-pohon dan
bangunan batupun roboh. Ratusan ribu penduduk tewas. Tak ada yg bisa menahannya.

Ketika badai Katrina melanda New Orleans, Amerika Serikat, ribuan orang - mayoritas kulit hitam - tewas. Listrik mati, puluhan ribu orang mengungsi, kelaparan, perkosaan dan penjarahan terjadi bukan di benua Afrika, atau negara miskin lainnya, tetapi terjadi di negara yg selalu memosisikan diri sebagai penyelamat warga dunia itu. Amerika Serikat - negara yg bisa melakukan segalanya, sesuai kemauan mereka, memiliki tehnologi canggih, dan ditakuti negara-negara lain - tak berdaya menghadapi badai dahsyat itu. Pemerintah AS yang selalu ikut campur urusan negara lain dgn alasan menyelamatkan rakyat, juga takluk dan tak dpt menyalahkan siapapun.

Manusia sesungguhnya tidaklah berdaya. Sama sekali tdk berdaya. Kematian dpt datang kapan saja dgn alasan-alasannya. Tak ada yang bisa menolak apalagi memilihnya. Manusia selalu merasa dpt mengatur semuanya, termasuk memperlambat datangnya kematian. Mereka membuka lebar-lebar pintu utk dunia dan percaya bahwasannya kebahagiaan sejati ada didalamnya.
Manusia merasa kematian hanya datang pada usia tua, shg mereka memilih dunia - tak peduli melahap harta yg bukan miliknya, memperdaya siapa saja, menyuap atau mempengaruhi - agar dirinya lolos dari kejahatan yg pernah dibuatnya dan tetap dianggap sebagai orang “suci”.
Mereka mencintai dunia, seakan dunia, harta dan tahta/jabatan dpt membujuk Tuhan utk memperlambat kematiannya atau bahkan menentukan rumah ahiratnya (surga).

Maut tdk datang dgn mengetuk pintu. Ia bisa masuk dari setiap celah
tanpa kita tahu. Ia tak pernah datang terlambat dan bermain-main. Tak ada yg bisa menahannya, tdk juga ajimat, susuk, setumpuk harta, dan kekuasaan, apalagi kebohongan.

Detik ini, menit ini, kita bisa tertawa, menghitung-hitung tabungan/depostio, dan mempersiapkan strategi menghancurkan lawan. Detik ini, kita merancang untuk suatu jabatan, kehormatan, dan kekuasaan. Detik berikutnya, tidak ada yg bisa menahan datangnya maut. Ia tdk mengetuk pintu dan memberitahu kedatangannya. Ia bisa masuk dari semua sisi dan bahkan ketika kita menghirup udara segar.

Karenanya jangan pernah lari dari kenyataan hidup, mengingkari kenyataan akan kematian atau sembunyi darinya dgn berdiam dirumah atau bahkan dibunker, menentang kebenaran dan ketentuan Sang Pemilik Alam dan Pengatur kejadian, atau bahkan memilih sendiri Tuhannya. Jalan yg terbaik adalah siapkanlah diri kita utk menyambut sang tamu - Maut - sebaik-baiknya, sabar, taqwa, berbuat baiklah kepada sesama, berdamailah, menyembah
kepada-Nya dgn benar, dan yg paling utama, gantungkanlah segala
sesuatunya hanya kepada-Nya.
Kepada siapa manusia menggantungkan dirinya, jika bukan kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa atas segalanya?

IslamSeptember 13, 2005 12:51 am

Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis:
“Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah:
“Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir:
“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah….”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah:
“Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja:
“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa:
“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah:
“Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan:
“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku.”

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata……

“Engkau ingin suami yang baik dan sholeh sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?”
“Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu……masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu….tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.”

“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?…… prestige? …… atau….engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya.”

“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku.”

“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.”

“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya.”

“Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”

Lantas…… aku malu…… dengan imajinasiku sendiri….aku malu……
aku malu akan tuntutanku…….

Maafkan aku ya Allah……lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.

(Ratih Sanggarwati, Gunung Geulis, 25 Desember 2002)

IslamSeptember 12, 2005 3:16 am

Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah…surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah…uendah nian.

Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, “Istriku masih yang tercantik,” sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut
sang istri, “Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku.”

Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur’an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan
cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak
dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

Emang ya, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur’an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, “…. dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik….” [QS Ath Thalaaq: 6] “….. dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS An Nisaa’: 19]

Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah
kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[QS At Taghaabun: 14]

Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu ’sayangilah aku (pasangan hidup) hingga ujung waktu’.

Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya,
Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga
dikabulkan do’anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

Wallahu alam bi showab,